Headlines News :

Believe to JESUS

Believe to JESUS
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI NASIOAL & INTERNASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI NASIOAL & INTERNASIONAL. Tampilkan semua postingan

Menteri ESDM ‘Tawarkan’ Indonesia Timur ke Komunitas Bisnis Internasional

[foto: int]
[foto: int]
Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengajak komunitas bisnis internasional untuk melakukan investasi di Indonesia. Adapun fokus Kawasan yang diarahkan adalah untuk berinvestasi di Indonesia Timur.
“Indonesia Timur menjadi wilayah yang prospektif sebagai tujuan investasi,” kata Sudirman saat menjadi panelis pada Norway-Asia Business Summit 2016 di Singapura, seperti dilansir Kontan (Rabu (13/4).
Menurut Sudirman, wilayah tersebut memiliki potensi sumber daya alam yang dimiliki seperti energi dan mineral serta peluang pembangunan infrastruktur yang sedang digalakkan oleh Pemerintah.
“Sudah banyak yang berhasil berinvestasi di Indonesia. Pilihlah mitra dan jalur yang tepat untuk keberhasilan investasi,” jelasnya.
Penawaran Sudirman tersebut selanjutnya diperkuat oleh panelis lainnya yang ikut hadir seperti dari Mckinsey, Dubes Norwegia untuk Indonesia, Hybrid Realty dan Singapore Institute of International Affairs.
Dalam panelis yang digelar tersebut, para analis investasi global kemudian meyakini bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang prospektif. (as)

Jokowi Akan Jadi Pembicara di Depan Pemimpin 7 Negara Maju

Jokowi
Presiden Jokowi berangkat ke Jepang untuk menghadiri KTT G-7 Outreach, Kamis (26/5). BIRO PERS SEKRETARIAT KEPRESIDENAN
Jokowi diminta untuk menjadi pembicara utama dalam pembahasan mengenai stabilitas dan kesejahteraan Asia
Kabar amugi kibah--Pagi ini Presiden Joko Widodo berangkat menuju Ise-Shima, Jepang. Kunjungannya kali ini untuk memenuhi undangan dari Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, untuk menghadiri pertemuan negara-negara G-7.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-7 Outreach ke 42 akan dilaksanakan Jumat besok di Jepang. G-7 merupakan negara-negara dengan industri maju, yang ekonominya menguasai sepertiga perekonomian dunia. Anggota kelompok ini terdiri dari tujuh negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Jepang.
Ini merupakan pertama kalinya Indonesia diundang dalam ajang tersebut. Indonesia akan menjadi tamu kehormatan dalam KTT G-7 Outreach. Selain Indonesia, ada beberapa negara lain yang juga diundang sebagai tamu, diantaranya Bangladesh, Laos (Ketua ASEAN), Papua Nugini, Sri Lanka, Vietnam, dan Uni Afrika. Negara-negara yang diundang ini diminta untuk berkontribusi pada G-7 Outreach. 
Dalam pertemuan ini akan dibahas dua tema besar, yakni stabilitas dan Kesejahteraan di Asia dan Pembangunan Berkelanjutan, Pemberdayaan Perempuan dan Kesehatan Global. Jokowi diminta untuk menjadi pembicara utama dalam pembahasan mengenai stabilitas dan kesejahteraan Asia. (Baca:Empat Perusahaan Besar Rusia Sampaikan Minat Investasi ke Jokowi)
Dalam isu pembangunan berkelanjutan, pemberdayaan perempuan, dan kesehatan global, “Indonesia akan menekankan pentingnya global partnershipserta peningkatan global health coverage di Indonesia,” kata Juru Bicara Presiden Ari Dwipayana dalam keterangannya resmi kepada media, Kamis (26/5).
Selain menghadiri Pertemuan G-7 Outreach, Jokowi juga akan melakukan pertemuan dengan beberapa pemimpin dunia. Diantaranya Presiden Perancis Francois Hollande, Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena, serta dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.
Jokowi berharap kehadiran Indonesia di Pertemuan G-7 Outreach bisa bermanfaat bagi peningkatkan kerjasama internasional dalam menghadapi tantangan-tantangan bersama. (Baca Infografik: Rp 700 Triliun, Komitmen Investasi dari Lawatan Jokowi)
Kunjungan ke Jepang, Jokowi dan Ibu Negara Iriana didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil dan Ketua DK OJK Muliaman Hadad. Presiden bersama rombongan direncanakan akan tiba kembali di tanah air, Jumat malam 27 Mei 2016.
suber--

Logo Katadata

Pelindo IV buka rute pelayaran langsung Papua-China

Pelindo IV buka rute pelayaran langsung Papua-China

kabar amugi kibah- Jakarta - PT Pelindo IV (Persero) melepas pelayaran langsung (direct call) ekspor perdana dari Papua menuju ke China dengan memberangkatkan 40 kontainer komoditi kayu olahan.

Pelaksanaan ekspor langsung ke negara tujuan China di Pelabuhan Jayapura ini telah dapat dilakukan setelah pemerintah daerah Papua menggandeng Pelindo IV yang telah merintis pengapalan ekspor langsung ke negara tujuan pada awal 2016 melalui pelabuhan Makassar dilanjutkan ke Papua Barat dan Papua.

Direktur Utama Pelindo IV, Doso Agung mengatakan melalui ekspor dan impor langsung dari dan ke Papua akan mampu meningkatkan indeks ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Doso juga meminta Pemda Papua untuk terus berinvestasi mengembangkan pelabuhan Jayapura sebagai pelabuhan internasional sehingga nantinya Pemda Papua dapat melakukan konversi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang semula bersumber dari pertambangan dan kehutanan menjadi usaha di bidang jasa atau services kepelabuhanan.

"Kalau usaha pertambangan dan kehutanan ada batas masanya, tapi kalau usaha jasa/services di bidang kepelabuhanan akan menghasilkan manfaat selamanya. Selain dapat melancarkan perdagangan dan ekonomi di Papua," ujarnya dalam keterangan tulis, Jakarta, Sabtu (9/4).

Saat ini jumlah komoditas ekspor langsung dari Papua masih berkisar rata-rata 40 kontainer per minggu. Doso optimistis ke depan hal ini akan dapat ditingkatkan melalui pengembangan potensi ekspor komoditas lainnya seperti produk ikan beku, hasil laut olahan dan rumput laut.

Sementara Gubernur Papua Lukas Enembe menambahkan bahwa ekspor perdana dari Papua merupakan langkah awal menuju visi kemandirian Papua dan mewujudkan kesejahteraan pengusaha dan masyarakat Papua.

"Ini karya nyata yang dilakukan Pemda Papua dan Pelindo 4, riil dan konkrit, tidak hanya teori atau wacana, dan langsung bisa dinikmati dan keliatan hasilnya untuk kemudahan pengusaha dan kesejahteraan masyarakat papua," jelas dia.

Dengan ekspor langsung, pengusaha Papua mendapatkan penghematan waktu pengiriman 10 hari dan hemat biaya hampir USD 300 sampai USD 600 per kontainer. Dia berkeyakinan untuk tahap selanjutnya volume komoditas ekspor dari Papua akan dapat di tingkatkan dari waktu ke waktu, jika sekarang hanya 40 kontainer per minggu mungkin selanjutnya bisa 100 kontainer per minggu dan terus meningkat.

Sebelumnya, hasil kayu olahan asli Papua jika akan dikirim ke luar negeri harus melalui antar pulau dulu seperti ke Surabaya atau Jakarta sehingga status ekspornya adalah di Surabaya atau Jakarta. Di samping itu, juga terjadi double handling atau turun naik pindah kapal sehingga biayanya tinggi.

Akibatnya pengusaha dan masyarakat Papua tidak mendapatkan benefit yang maksimal karena selain biaya logistik yang mahal juga waktu tempuh ke negara tujuan ekspor menjadi sangat lama.

Dengan direct call ini akan merangsang pengusaha dan masyarakat untuk menumbuh kembangkan usaha makro maupun mikro yang berorientasi ekspor. "Kami terus membantu mengkonsolidasikan upaya upaya peningkatan komoditas ekspor di wilayah Papua," tutup Lukas.
suber-Jakarta merdeka.com

Paus: Jangan Biarkan Kepentingan Ekonomi Kalahkan HAM

Ilustrasi: Jemaat menghadiri Misa Paus Fransiskus di Ciudad Juarez, Meksiko 17 Februari 2016. (Foto: reuters.com/Edgard Garrido)
 
VATICAN CITY, KABAR AMUGI KIBAH - Jangan biarkan mantra kebebasan ekonomi dan kehausan akan laba mengalahkan hak asasi dan kebebasan manusia, kata Paus Fransiskus kepada sejumlah pengusaha di Italia.

Jangan biarkan pasar menjadi "sesuatu yang mutlak, tetapi hormatilah rasa keadilan," kata dia di depan audiens di Vatikan pada 27 Februari lalu, bersama dengan wakil-wakil dari Confindustria, sebuah federasi pengusaha dan kantor dagang Italia.

Paus, sebagaimana dilaporkan oleh bostonpilot.com,  mengatakan para pemimpin bisnis dipanggil untuk menjaga standar profesional, keselamatan kerja dan selalu mempromosikan keadilan, menolak "jalan pintas nepotisme dan kroniisme," ketidakjujuran dan "kompromi yang mudah."

Misi mereka harus dipandu oleh altruisme, kata Paus, dan mereka harus menolak membiarkan martabat manusia "diinjak-injak atas nama persyaratan produksi yang menutupi kepicikan individualistik, egoisme dan haus akan keuntungan."

Ia mengajak para pengusaha itu  mempromosikan kepentingan umum menjadi panduan dalam produksi "sehingga perekonomian oleh semua dan untuk semua dapat tumbuh," kata Paus.

Sebuah ekonomi yang lebih inklusif adalah mungkin, kata dia, "asalkan proklamasi kebebasan ekonomi tidak menang atas kebebasan konkret manusia dan hak-haknya, bahwa pasar tidak mutlak, tapi menghormati persyaratan keadilan, dan akhirnya, martabat orang. Karena tidak ada kebebasan tanpa keadilan dan tidak ada keadilan tanpa rasa hormat pada martabat setiap manusia. "

Paus meminta agar perhatian khusus harus diberikan kepada kebutuhan nyata dan mimpi dari keluarga dan para dewasa muda serta orang tua yang mungkin masih memiliki kemauan dan pengetahuan untuk berkontribusi dalam bisnis.

Pertemuan Gubernur dan 16 Bupati Papua dengan Barack Obama

Presiden AS Barack Obama di Oval Office, White House (photo by Pete Souza)
Presiden AS Barack Obama di Oval Office, White House (photo by Pete Souza)
Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe bersama 16 Bupati di wilayah Pegunungan Papua, direncanakan bertolak ke Amerika Serikat (AS) untuk bertemu dengan Presiden AS Barack Obama bulan Juli 2013. Selain itu, Gubernur dan para bupati akan menggelar pertemuan dengan pemilik PT Freeport Indonesia di Amerika Serikat.
“Bulan depan, sesuai rencana, saya akan memimpin para bupati di wilayah pegunungan tengah ke Amerika untuk bertemu dengan Barack Obama, Presiden AS,” ungkap Gubernur Papua, Lukas Enembe, kepada wartawan di Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Senin (24/6/2013).
Pertemuan dengan Barack Obama difasilitasi adik sang presiden, Maya Soetoro. “Adik Barack Obama, Maya Soetoro sebelum berangkat ke Amerika akan berkunjung ke Papua, karena dia sangat tertarik dan berkeinginan besar untuk mendukung program pendidikan dan kesehatan di tanah Papua,” kata Lukas.
Sementara, untuk pertemuan dengan pemilik PT Freeport Indonesia, Moffett, Lukas mengatakan akan dibicarakan masalah Freeport di tanah Papua. Gubernur berharap dapat membicarakan keberpihakan Freeport kepada rakyat Papua, khususnya pemilik tambang, yang selama ini belum merasakan hasil buminya sendiri.
“Kami berharap, dengan cara ini, Freeport bisa berbuat yang lebih banyak lagi kepada rakyat Papua, khususnya masyarakat pemilik tambang, seperti di kabupaten Puncak dan Intan Jaya, karena satu persen yang diberikan selama ini tidak seimbang dengan apa yang diambil dari perut bumi Papua,” bebernya.
Gubernur Papua Lukas Enembe berbincang dengan warga. (photo: Katharina Lita
Gubernur Papua Lukas Enembe berbincang dengan warga. (photo: Katharina Lita
Adik Presiden Amerika Barack Obama, Maya Soetoro, menyangkal pemberitaan bahwa dia akan memfasilitasi pertemuan Gubernur beserta 16 bupati di Papua dengan kakaknya. Maya yang juga dosen di Universitas Hawaii meluruskan kabar tersebut.
“Ini hanya sebuah kesalahpahaman. Saya bukan seorang pejabat yang memiliki kewenangan untuk melakukan ini. Saya tidak bisa melakukan tindakan untuk menghubungkan pertemuan ini,” ujar Maya Soetoro melalui juru bicaranya, Micah Fisher, Selasa (25/6/2013). Pernyataan Maya terkait dengan berita berjudul Gubernur dan 16 Bupati Pegunungan Papua Akan Bertemu Barack Obama.
Maya menjelaskan, tanggal 9-16 Juni lalu, dia bersama delegasi dari Universitas Hawaii berkunjung ke Yogya. Delegasi tersebut membicarakan kerjasama dengan universitas-universitas di Indonesia di bidang pendidikan.
“Saat itu, selain bertemu perwakilan dari universitas-universitas di Indonesia, ada juga pertemuan dengan delegasi dari Papua, karena pendidikan di Papua kan sangat sulit,” ungkap Maya.
Maya Soetoro, adik Presiden AS Barack Obama (photo: Lucy Pemoni / AP)
Maya Soetoro, adik Presiden AS Barack Obama (photo: Lucy Pemoni / AP)
Maya pun terlibat diskusi dengan delegasi tersebut apa yang bisa dikembangkan dari pendidikan di Papua. Selanjutnya delegasi dari Papua itu sempat meminta dirinya untuk menyiapkan pertemuan dengan Barack Obama.
“Tidak pernah ada informasi bahwa saya menyanggupi, karena memang tidak mempunyai kewenangan. Kakak saya sangat tegas mengatakan cara kerja yang sah itu sangat penting,” lanjutnya. (detik.com)

HIPMI Papua Ingin Akses Perdagangan ke PNG Di Buka

Jayapura– Guna menghadapi Asean Komuniti (perdagangan bebas dibuka di tingkat ASEAN), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Papua telah melakukan pertemuan dengan beberapa pihak, diantaranya Badan Perbatasan dan Kerjasama Luar Negeri dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) untuk membuka beberapa akses guna mempermudah pengusaha Papua melakukan usahanya di Negara tetangga, Papua New Guinea (PNG).
“Kami sudah melakukan beberapa kali audien dengan pihak-pihak yang mempunyai kewenangan guna membuka akses kami ke luar negeri dalam hal ini PNG, agar kami pengusaha-pengusaha Papua dapat mengembangkan usaha kami di daerah tersebut,” kata Ketua Bidang Kerjasama Luar Negeri HIPMI Papua, Yance Mote kepada Jubi, Senin (11/8/2015) di Abepura.
Maksud audiens tersebut menurut Yance Mote untuk membantu pengusaha-pengusaha asli Papua agar dapat bersaing dengan pengusaha-pengusaha luar negeri pada Asean Komuniti tahun 2020 mendatang. “Kami ingin membuka akses kerjasama luar negeri untuk menghadapi Asean Komuniti, namun dilain pihak kami juga ditantang dengan MSG. Papua dan PNG merupakan ras melanesia yang hidup berdampingan dalam satu pulau besar,” katanya.
Untuk itu, HIPMI Papua menginginkan terbukanya jalur perdagangan antara Papua dan PNG. “Nah, itulah maksud kami bertemu dengan Kepala Badan Perbatasan dan Kerjasama Luar Negeri. Sebelum kami juga sudah audiens dengan pihak DPRP dalam hal ini ketua DPR Papua,” terang Yance Mote.
Menurut Yance Mote, inti dari audien ini adalah bagaimana regulari kemudahan iklim investasi dari pengusaha-pengusaha Papua dengan pengusaha yang ada di PNG. Supaya perdagangan sembako bisa terbuka dengan baik.
“Bagaimana terbuka dengan baik, saat ini kami mengalami kendala bagaimana regulasi atau aturan. jadi sepanjang UU Otsus itu ada lima hal yang memang diatur oleh Jakarta. Nah, bagaimana akses ini bisa terbuka, untuk itu kami melakukan pertemuan untuk bisa mencari solusi yang baik sehingga akses pengusaha papua bisa masuk ke PNG. Di PNG sendiri, perdagangan dikuasai oleh kelompok Malaysia dan Filipina,” ujarnya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap, pengusaha Papua dapat melakukan kerjasama dalam hal perdagangan dengan PNG yang mana jarak dan waktu tempuh yang cukup singkat ketimbang Malaysia dan Philipina. “Kalau kita bisa masuk ke sana kenapa tidak? Jangan biarkan monopoli perdagangan dilakukan oleh Negara lain, sedangkan kita bisa membatu saudara kita sendiri,” tegas Yance Mote.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala Perbatasan menyambut baik maksud dan tujuan HIPMI Papua melakukan kerjasama dengan Negara tetangga dalam hal ini penyaluran sembako dan komoditi lainnya. “Saya sangat mendukung itu, saya akan melakukan komunikasi dengan gubernur Papua sehingga kedepannya bisa melakukan dialog dengan konsultan di sana (PNG),” kata Susi Wanggai. (Roy Ratumakin)

Jokowi Optimis Indonesia Pemasok Pangan Dunia

JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengungkapkan optimismenya bahwa Indonesia sangat berpeluang menjadi pemasok pangan dunia. Hal itu ia sampaikan saat membuka Musyawarah Nasional VIII Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), di Asrama Haji, Jakarta, Jumat (31/7/2015).
Jokowi mengungkapkan, bekal utama Indonesia untuk menjadi pemasok pangan dunia adalah tersedianya lahan yang luas dan berada di garis khatulistiwa. Ia yakin, target tersebut dapat dicapai di tahun-tahun mendatang jika dilakukan perbaikan sistem pertanian sejak saat ini.
"Kalau manajemen tidak baik, kita perbaiki. Pada saatnya nanti, kita harus optimis bisa, Indonesia akan jadi pemasok pangan dunia," kata Jokowi.
Ia melanjutkan, peluang Indonesia terbuka lebar untuk memasok beras, singkong, dan ikan. Jokowi lalu mengungkap potensi produksi beras di Merauke yang dapat mencapai 120 juta ton per tahun. Di Merauke, terdapat 4,6 juta hektar lahan yang akan mulai digarap pemerintah seluas 1,2 juta hektar untuk tanaman padi.
"Harus ada peningkatan mekanisme. Pemerintah dan HKTI harus bekerja sama, harus sejalan," ujarnya.
Selain itu, kata Jokowi, pemerintah juga akan mengoptimalkan lahan yang ada di Nusa Tenggara Timur. Ia menyebut selama tujuh bulan ini telah mulai dibangun beberapa waduk di NTT untuk mengairi lahan yang dapat ditanami padi, jagung, dan lainnya. "Sudah dimulai (pembangunannya), perkembangannya cepat sekali," ucap Jokowi.
Selanjutnya, Jokowi sangat sadar bahwa swasembada pangan tidak akan tercapai jika tidak diimbangi dengan keseriusan para petani. Dalam konteks ini, Jokowi ingin meningkatkan kesejahteraan petani melalui kebijakan pemberian subsidi yang tepat.
"Subsidi pupuk, tapi kenyataanya petani tidak pernah mendapatkan itu. Ini proses, kalkulasi, nanti (subsidi) tidak melalui pupuk atau benih, tapi melalui produk," tuturnya.

Sumber: Kompas.com

Dana Desa dan Solusi Urbanisasi

Oleh Joko Tri Haryanto, pegawai Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI--
Hingga pertengahan Juni 2015, pemerintah telah menyalurkan Rp7,3 triliun Dana Desa (DD) kepada 385 kabupaten/kota yang telah memenuhi kualifikasi. Realisasi penyaluran tersebut didasarkan kepada hasil kesepakatan Pemerintah dan DPR dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 sebesar Rp20,7 triliun untuk 434 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Alokasi DD tersebut masuk dalam postur APBN bersama dengan alokasi Transfer ke Daerah (TkD) sebesar Rp643,8 triliun yang terdiri dari komponen Dana Perimbangan (Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus) sebesar Rp521,8 triliun, Dana Otonomi Khusus (Papua, Papua Barat dan NAD) sebesar Rp17,1 triliun, Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar Rp547 miliar serta Dana Transfer Lainnya sebesar Rp104.4 triliun sehingga total keseluruhan mencapai Rp664,6 triliun atau sekitar 33,5% total Belanja Negara.
Secara umum, terwujudnya mekanisme pendanaan tersebut merupakan implementasi dari Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Dalam pasal Pasal 71 ayat (1), yang dimaksud dengan keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa. Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebut menimbulkan pendapatan, belanja, pembiayaan, dan pengelolaan desa.
Sementara dalam pasal 72 ayat (1) disebutkan bahwa pendapatan desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2) bersumber dari 1) Pendapatan Asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain Pendapatan Asli Desa; 2) alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; 3) bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota; 4) alokasi dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota; 5) bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah  provinsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota; 6) hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan 7) lain-lain pendapatan Desa yang sah.
Di dalam penjelasan pasal 72 ayat (2), besaran alokasi anggaran yg peruntukannya langsung ke desa, ditentukan 10% dari dan di luar dana TkD (on top) secara bertahap. Dalam penyusunannya, anggaran yg bersumber dari APBN untuk desa dihitung berdasarkan jumlah desa dan dialokasikan dengan memperhatikan jumlah penduduk (JP), angka kemiskinan, luas wilayah (LW), dan tingkat kesulitan geografis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan desa.
Pesan inilah yang seharusnya tersampaikan secara sempurna kepada seluruh aparat desa yang nantinya akan mengelola bahwa dana desa wajib ditujukan bagi upaya peningkatan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan desa, bukan untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompok. Pernyataan ini sekaligus menjawab kekhawatiran banyak pihak yang menyebutkan dana desa berpotensi menimbulkan moral hazard baru bagi para penyelenggara pemerintahan di level desa.
Berdasarkan UU Desa, kegiatan pembangunan dan pemerataan antardesa, akan dilakukan melalui skema penataan desa. Penataan desa ini nantinya akan ditujukan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat, kualitas pelayanan publik, tata kelola pemerintahan (good governance) sekaligus meningkatkan daya saing desa. Upaya tersebut akan difasilitasi melalui berbagai kemungkinan melakukan penghapusan desa, pembentukan desa, penggabungan desa, perubahan status desa dan penyesuaian kelurahan.
Solusi Urbanisasi
Dengan menggunakan asumsi data jumlah desa tahun 2014 sebanyak 72.944 desa, maka nantinya tiap-tiap desa diperkirakan akan mengelola dana sebesar Rp1,4 miliar. Dibandingkan kondisi yang ada saat ini, penambahan alokasi dana tersebut tentu sangat menggembirakan. Berbagai persoalan yang melingkupi desa selama ini diharapkan dapat diatasi secepatnya, khususnya terkait dengan permasalahan kesenjangan yang terjadi baik antardesa maupun antara desa dengan kota. Bahkan bukan hal yang mustahil jika dana desa dapat dijadikan salah satu solusi bagi upaya mengatasi persoalan urbanisasi di beberapa kota besar, khususnya di DKI Jakarta.
Menilik urbanisasi paskalebaran tahun 2014 lalu sebagai contoh. Perputaran uang ke desa sepanjang ramadhan hingga lebaran 2014, mampu menembus angka Rp115 triliun. Menurut keterangan dari Bank Indonesia (BI), perputaran uang tersebut meningkat hampir 14,9% dibandingkan tahun lalu yang menyentuh kisaran Rp103,2 triliun. Hingga April 2014, tercatat Jumlah Uang Beredar (JUB) di masyarakat sebesar Rp886,6 triliun dan terus meningkat hingga Rp906,7 triliun di medio bulan Mei 2014. Masih berdasarkan data BI, distribusi uang Lebaran tersebut mayoritas berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodetabek) sementara sisanya mengalir ke daerah tujuan pemudik.
Banyak pihak menilai fenomena urbanisasi sebetulnya terjadi akibat besarnya tingkat kesenjangan antarpenduduk serta kesenjangan antara desa dan kota. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), porsi 20% penduduk dengan pendapatan tertinggi di Indonesia terus meningkat, sementara 40% penduduk pendapatan menengah dan rendah cenderung fluktuatif. Dilihat dari nilai Indeks Gini, terlihat peningkatan signifikan dari 0,33 tahun 2002, menjadi 0,37 tahun 2009. Berbagai fakta tersebut tentu mendukung premis kesenjangan yang terjadi.
Menurut data BPS, jumlah penduduk miskin di desa hingga tahun 2002 sudah mencapai 25,1 juta jiwa, sedangkan penduduk miskin di kota mencapai 13,3 juta penduduk. Tahun 2006, jumlah penduduk miskin desa mencapai 24,81 juta jiwa, sementara di kota mencapai 14,49 juta jiwa. Data terakhir BPS tahun 2011, jumlah penduduk miskin di desa mencapai 18,94 juta jiwa, sedangkan di kota mencapai 10,95 juta jiwa. Dengan kondisi kemiskinan penduduk desa mencapai hampir dua kali lipat penduduk kota, tak heran jika penduduk desa akan terus melihat kota sebagai harapan perubahan. Untungnya sejak lebaran tahun 2013 lalu, kebijakan Pemerintah Daerah DKI Jakarta dalam mengelola urbanisasi membuahkan hasil. Jumlah pendatang baru yang masuk di tahun 2013 tercatat hanya sebesar 31 ribu jiwa, dimana 20 ribu di antaranya tersebar di berbagai daerah penyangga Jakarta.
Fakta tersebut tentu wajib mendapatkan apresiasi, mengingat begitu masifnya tindakan pencegahan yang dilakukan, baik melalui himbauan kepada masyarakat untuk tidak mengajak sanak saudaranya datang ke Jakarta, maupun berbagai sosialisasi, pemasangan spanduk danpamflet kerasnya kehidupan di ibu kota. Pesatnya pertumbuhan daerah-daerah di pinggiran Jakarta seperti Depok, Bogor dan Bekasi juga turut andil, karena di mata kaum pendatang pilihan sasaran perbaikan hidup menjadi lebih bervariasi. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk Depok dan Bekasi yang mencapai 3% dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan penduduk Jakarta yang hanya 1,3%, semakin memperkuat argumentasi  di atas.
Oleh karena itu, bagaimana mengelola urbanisasi secara lebih bijak sebetulnya dapat dilakukan melalui pendekatan kependudukan atau kewilayahan. Pendekatan kependudukan tentu terkait dengan subyek dari urbanisasi itu sendiri, yaitu penduduk atau masyarakatnya. Urbanisasi hanya akan dianggap negatif ketika penduduk yang datang adalah penduduk yang unskill danuneducated. Dilihat dari sisi positif, penduduk sebetulnya memiliki faktor strategis dalam pembangunan karena penduduk adalah subyek dan obyek pembangunan. Sebagai subyek, penduduk harus dibina dan ditingkatkan kualitasnya sehingga mampu menjadi mesin penggerak pembangunan. Keadaan dan kondisi kependudukan yang ada akan sangat mempengaruhi dinamika pembangunan. Jumlah penduduk yang besar jika diikuti dengan kualitas penduduk yang memadai akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya jumlah penduduk yang besar namun kualitasnya kurang memadai justru akan menjadi beban pembangunan.
Dari sudut pandang pendekatan kewilayahan, upaya pengurangan tingkat ketimpangan antardaerah dilakukan melalui penyebaran arus investasi di seluruh daerah secara lebih merata. Sebagai contoh, ketika tingkat pertumbuhan ekonomi Depok, Bogor dan Bekasi tidak menarik di mata kaum pendatang, berbagai bentuk pelarangan masuk kota Jakarta tidak akan membuahkan hasil yang efektif. Sebaliknya, tanpa dilarang sekalipun, jika pertumbuhan ekonomi Depok, Bekasi dan Bogor bersaing dengan pertumbuhan ekonomi Jakarta, maka kaum pendatang akan berpikir ulang untuk masuk ke Jakarta.
Baik pendekatan kependudukan maupun kewilayahan, semuanya akan optimal jika didukung alokasi DD yang bertanggung jawab. Dengan anggaran yang meningkat, desa memiliki potensi mengembangkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat desa sekaligus memajukan pembangunan desanya. Masyarakat desa yang berkualitas tentu menjadi input yang bermanfaat baik bagi desa itu sendiri maupun bagi daerah lainnya ketika terjadi pola urbanisasi. Sementara, desa yang maju akan memberikan banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya tanpa perlu berpindah ke kota.
Ke depannya, proses inilah yang wajib kita ciptakan bersama. Jangan sampai pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan pengalokasian dana desa, namun pada gilirannya tujuan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa justru masih jalan di tempat. Jika ini yang terjadi, pola urbanisasi yang berdampak negatif pun akan terus terpelihara.
sumber : http://www.kemenkeu.go.id

Lukai Hati Rakyat Indonesia, Jokowi Datangkan Ribuan Buruh Asal China Bekerja di Banten & Papua

Lukai Hati Rakyat Indonesia, Jokowi Datangkan Ribuan Buruh Asal China Bekerja di Banten & Papua
JAKARTA (kabar amugi kibah) – Saat kampanye Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 yang lalu, pasangan Capres-Cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) berjanji bakal menciptakan 10 juta lapangan baru jika terpilih menjadi orang nomor satu di Indonesia pada Pilpres tanggal 9 Juli 2014 lalu.
Menurut Jokowi, langkah itu diambil guna menekan angka pengangguran di Tanah Air. “Menurunkan tingkat pengangguran 10 juta lapangan kerja baru selama lima tahun,” kata Jokowi di Bandung, Jawa Barat (Jabar) pada Kamis (3/7/14).
Sejarah kemudian mencatat jika Jokowi-JK terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Dan ternyata, janji 10 juta lapangan kerja itu pun sepertinya akan dipenuhi. Namun anehnya, 10 juta lapangan kerja yang dimaksud ternyata diperuntukkan bagi warga China (RRC) yang akan berkerja di Indonesia dalam banyak proyek besar infrastruktur yang diteken oleh Jokowi dengan Pemerintah Komunis China (PKC).
Menurut kesaksian seorang karyawan yang masih bekerja di Bayah, Provinsi Banten, sudah beberapa bulan ini tengah dikerjakan suatu proyek infrastruktur besar dimana para pekerjanya didatangkan langsung dari China.
“Para pekerjanya orang-orang China. Tapi heran saya, orang-orang itu sepertinya tidak berpendidikan, jorok-jorok. Maaf, buang air besar saja sembarangan. Tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak bisa baca tulis. Sepertinya, mereka ini dari golongan masyarakat paling bawah di RRC sana dan dikirim ke sini,” ujarnya sepeti dilansir Eramuslim.
Ketika ditanya apakah para pekerja kasar itu akan dikembalikan ke China setelah proyek ini berakhir, seorang narasumber Eramuslim yang dekat dengan petinggi proyek itu menggelengkan kepala.
“Belum tahu, tapi sepertinya tidak. RRC itu surplus penduduk, dan sepertinya mereka sengaja mengekspor orang-orangnya yang tidak berpendidikan ke Indonesia untuk nanti bisa tinggal di sini. Saya sedih melihat kelakuan pejabat-pejabat kita yang sama sekali tidak punya rasa nasionalismenya sekarang ini,” ucapnya.
Pekerja Asal China Serbu Indonesia 1
Tak Hanya Banten, Papua Juga Diserbu Tenaga Kerja China
Ratusan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China juga didatangkan untuk bekerja di Pabrik Semen Maruni, Distrik Manokwari Selatan. Jumlahnya sudah ratusan, tidak pakai visa tenaga kerja asing, semua visa wisata. Sementara yang dipulangkan karena paspornya bermasalah. Hal ini menjadi pemicu konflik di masyarakat lokal Papua, sebab sampai pekerjaan kasar seperti buruh bangunan juga asli dari China.
Itu baru di Banten dan Papua. Belum lagi di banyak daerah. Sebab itu jangan heran jika sekarang ini di mana-mana banyak berkeliaran orang-orang China. Rekayasa demografi sepertinya tengah terjadi di Indonesia yang akan menyingkirkan kaum pribuminya.
Hal ini tentu menyakiti rakyat Indonesia. Sayangnya, hal ini malah berjalan di bawah restu rezim Jokowi-JK sekarang ini. Akankah anak bangsa akan terus asyik menggosok batu akik saja tanpa memikirkan anak cucu kita kelak? 
suber: Panjimas.com

Kondisi Freeport dan Timika ibarat luar negeri dan desa

kabar amugi kibah- Rapat kerja Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengusung tema perdagangan dan investasi di Indonesia Bagian Timur menghadirkan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin.
Dalam kesempatan berdiskusi, Wakil Ketua Kadin Papua, Rosiyanti melontarkan pertanyaan dan keluhan terhadap perusahaan yang berafiliasi ke Freeport McMoran Amerika Serikat itu.
Dikatakannya, dalam perjalanan sebagai pengusaha dan pengurus Kadin selama 20 tahun, Rosi melihat Freeport tidak mengajak kerja sama pengusaha lokal setempat. Lebih sering mengajak rekanan perusahaan asal Jakarta.
"Jangan takut kepada pengusaha di Papua. Kasih kesempatan untuk Kadin Papua. Padahal ribuan proyek itu banyak dari Jakarta saja," ujarnya di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (25/5).
Dia juga menuding Freeport tidak memperhatikan wilayah di sekitar pertambangan, seperti Timika. Padahal, Timika merupakan bagian daerah Freeport juga.
"Saya lihat kota Timika dan Freeport (Tembagapura) antara desa dan luar negeri. Itu kita lihat sendiri. Harusnya Timika itu adalah kota Freeport juga, jangan dibedakan," jelas dia.
Maroef juga mengkritik keberadaan dan aktivitas Freeport yang tak mendatangkan untung buat Timika.
"Satu yang bisa saya katakan, bahwa Freeport menyumbang 91 persen dari APBD Timika. Itu yang bisa saya katakan. Silakan maknakan sendiri," jelas dia.
Berangkat dari sederet kritik itu, wajar bila Freeport sering diperbicangkan. "Memang Freeport lagi seksi (dibicarakan). Saya dengan senang hati, kalau bapak dan ibu mau berbicara khusus dengan saya. Kita bisa melihat langsung bagaimana kondisinya di sana. Karena kalau on the spot kita akan lihat secara objektif," ungkapnya.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. AMUGI KIBAH - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger